Sejarah
perencanaan pembangunan di Indonesia sejak tahun 1945 hingga
kinimengalami berbagai perkembangan sejalan dengan tingkat stabilitas
politik dankeamanan. Artinya faktor-faktor sosial politik ekonomi,
perhitungan akurat yang tidak ambisius, pengawasan yang kontinyu,
pelaksanaan koordinasi dan singkronisasi yang baik, serta pembiayaan
yang memada, merupakan hal yang sangat mempengaruhi keberhasilan
pembangunan suatu negara. Salah satu kendala pada awal kemerdekaan
adalah keterbatasan datal,sehingga pemerintah belum menyusun
perencanaan yang baik. Namun pemerintah Indonesia terus berupaya
memperbaiki perekonomian yang berantakan akibat peperangan,
pemberontakan dan reformasi perpolitikan di Indonesia. Usaha-usaha
tersebut mulai tercermin mulai dari pembentukan Panitia Pemikiran
Siasat Ekonomi sampai disusunnya Program Pembangunan Nasional
(Propenas).
A. STRATEGI PEMBANGUNAN
Salah
satu konsep penting yang perlu diperhatikan dalam mempelajari
perekonomian suatu negara adalah mengetahui tentang strategi
pembangunan ekonomi. Strategi pembangunan ekonomi diberi batasan
sebagai suatu tindakan pemilihan atas faktor-faktor (variabel) yang
akan dijadikan faktor/variabel utama yang menjadi penentu jalannya
proses pertumbuhan (Suroso, 1993). Beberapa strategi pembangunan
ekonomi adalah :
1. Strategi Pertumbuhan
Inti dari konsep strategi pertumbuhan :
· Strategi
pembangunan ekonomi suatu negara akan terpusat pada upaya pembentukan
modal serta bagaimana menanamkannya secara seimbang, menyebar, terarah,
dan memusat sehingga dapat menimbulkan efek pertumbuhan ekonomi.
· Selanjutnya
pertumbuhan ekonomi akan dinikmati oleh golongan lemah melalui proses
merambat ke bawah (trickle-down-effect) pendistribusian kembali.
· Jika terjadi ketimpangan atau ketidakmerataan, hal tersebut merupakan prasyarat terciptanya pertumbuhan ekonomi.
· Kritik
paling keras dari strategi yang pertama ini adalah bahwa pada kenyataan
yang terjadi adalah ketimpangan yang semakin tajam.
2. Strategi Pembangunan dengan Pemerataan
Inti
dari konsep strategi ini adalah dengan ditekankannya peningkatan
pembangunan melalui teknik sosial engineering, seperti halnya melalui
penyusunan perencanaan induk dan paket program terpadu.
3. Strategi Ketergantungan
Tidak
sempurnanya konsep strategi pertama dan kedua mendorong para ahli
ekonomi mencari alternatif lain, sehingga pada tahun 1965 muncul
strategi pembangunan dengan nama strategi ketergantungan.
Inti dari konsep strategi ketergantungan :
Kemiskinan
di negara-negara berkembang lebih disebabkan karena adanya
ketergantungan negara tersebut dari pihak/negara lainnya. Oleh karena
itu jika suatu negara ingin terbebas dari kemiskinan dan
keterbelakangan ekonomi, negara tersebut harus mengarahkan upaya
pembangunan ekonominya padausaha melepaskan diri dari ketergantungan
dari pihak lain. Langkah yang dapat ditempuh diantaranya : meningkatkan
produksi nasional yang disertai dengan peningkatan kemampuan dalam
bidang produksi, lebih mencintai produk nasional, dan sejenisnya.
4. Strategi yang Berwawasan Ruang
Strategi
ini dikemukakan oleh Myrdall dan Hirschman, yang mengemukakan
sebab-sebab kurang mampunya daerah miskin berkembang secepat daerah
yang lebih kaya/maju. Menurut mereka kurang mampunya daerah miskin
berkembang secepat daerah maju dikarenakan kemampuan/pengaruh menyebar
dari kaya ke miskin (spread effects) lebih kecil daripada terjadinya
aliran sumber daya dari daerah miskin ke daerah kaya
(back-wash-effect). Perbedaan pandangan kedua tokoh tersebut adalah,
bahwa Myrdall tidak percaya bahwa keseimbangan daerah kaya dan miskin
akan tercapai. Sedangkan Hirschman percaya, sekalipun baru akan
tercapai dalam jangka panjang.
5. Strategi Pendekatan Kebutuhan Pokok
Sasaran
dari strategi ini adalah menaggulangi kemiskinan secara masal. Stategi
ini selanjutnya dikembangkan oleh Organisasi Perburuhan Sedunia (ILO)
pada tahun 1975, dengan menekankan bahwa kebutuhan pokok manusia tidak
mungkin dapat dipenuhi jika pendapatan masih rendah akibat kemiskinan
yang bersumber pada pengangguran. Oleh karena itu sebaiknya usaha-usaha
diarahkan pada penciptaan lapangan kerja, peningkatan pemenuhan
kebutuhan pokok, dan sejenisnya
B. FAKTOR YANG MEMPENGARUHI STRATEGI PEMBANGUNAN
Pembangunan
ekonomi bertujuan untuk meningkatkan pendapatan nasional riil dan
produktivitas. Faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan ekonomi
Negara-negara berkembang antara lain :
1. Modal (capital)
2. Tenaga kerja yang tersedia
3. Kekayaan alam (sumber daya alam ) riil
4. Teknologi dan wirausaha
5. Karakteristik social budaya masyarakat
6. Luasnya pasar
7. System perekonomian yang digunakan.
1. Modal (capital)
2. Tenaga kerja yang tersedia
3. Kekayaan alam (sumber daya alam ) riil
4. Teknologi dan wirausaha
5. Karakteristik social budaya masyarakat
6. Luasnya pasar
7. System perekonomian yang digunakan.
Faktor
modal dan tenaga kerja merupakan input yang langsung mempengaruhi
besarnya output. Sedangkan kelima factor terakhir merupakan input yang
secara tidak langsung mempengaruhi besarnya output melalui pengaruhnya
terhadap modal dan tenaga kerja.
C. STRATEGI PEMBANGUNAN EKONOMI DI INDONESIA
Seperti
kita ketahui bersama bahwa salah satu tujuan penting perencanaan
ekonomi di negara sedang berkembang seperti Indonesia adalah untuk
meningkatkan laju pertumbuhan ekonomi. Untuk meningkatkan pertumbuhan
tersebut berarti perlu juga meningkatkan laju pembentukan modal dengan
cara meningkatkan tingkat pendapatan, tabungan, dan investasi. Untuk
negara Indonesia peningkatan laju pembentukan modal ini menghadapi
berbagai kendala, salah satunya adalah kemiskinan masyarakat Indonesia
itu sendiri. Hal ini diakibatkan karena tingkat tabungan yang rendah.
Tingkat tabungan rendah dikarenakan tingkat pendapatan rendah.
Akibatnya laju investasi juga rendah dan berpengaruh pada rendahnya
modal dan produktivitas.
Pada awal Orde Baru, strategi pembangunan di Indonesia lebih diarahkan pada tindakan pembersihan dan perbaikan kondisi ekonomi yang mendasar, terutama usaha-usaha untuk menekan laju inflasi yang sangat tingi (Hyper Inflasi).Strategi-strategi tersebut kemudian dipertegas dengan ditetapkan sasaran-sasaran dan titik berat setiap Repelita, yakni :
Pada awal Orde Baru, strategi pembangunan di Indonesia lebih diarahkan pada tindakan pembersihan dan perbaikan kondisi ekonomi yang mendasar, terutama usaha-usaha untuk menekan laju inflasi yang sangat tingi (Hyper Inflasi).Strategi-strategi tersebut kemudian dipertegas dengan ditetapkan sasaran-sasaran dan titik berat setiap Repelita, yakni :
· REPELITA
I : Meletakkan titik berat pada sektor pertanian dan industri yang
mendukung sektor pertanian meletakkan landasan yang kuat bagi tahap
selanjutnya.
· REPELITA
II : Meletakkan titik berat pada sektor pertanian dengan meningkatkan
industri yang mengolah bahan mentah menjadi bahan baku meletakkan
landasan yang kuat bagi tahap selanjutnya.
· REPELITA
III : Meletakkan titik berat pada sektor pertanian menuju swasembada
pangan dan meningkatkan industri yang mengolah bahan baku menjadi
barang jadi meletakkan landasan yang kuat bagi tahap selanjutnya.
· REPELITA
IV : Meletakkan titik berat pada sektor pertanian untuk melanjutkan
usaha-usaha menuju swasembada pangan dengan meningkatkan industri yang
dapat menghasilkan mesin-mesin industri sendiri, baik industri ringan
yang akan terus dikembangkan dalam Repelita-repelita selanjutnya
meletakkan landasan yang kuat bagi tahap selanjutnya.
D. PERENCANAAN PEMBANGUNAN
Apapun definisi perencanaan pembangunan, menurut Bintoro Tjokroamidjojo, manfaat perencanaan adalah :
1. Dengan
adanya perencanaan diharapkan terdapatnya suatu pengarahan kegiatan,
adanya pedoman bagi pelaksanaan kegiatan-kegiatan yang ditujukan kepada
pencapaian tujuan pembangunan.
2. Dengan
perencanaan maka dapat dilakukan suatu perkiraan terhadap hal-hal dalam
masa pelaksanaan yang akan dilalui. Perkiraan dilakukan mengenai
potensi-potensi dan prospek-prospek perkembangan, tetapi juga mengenai
hambatan-hambatan dan resiko-resiko yang mungkin dihadapi. Perencanaan
mengusahakan supaya ketidakpastian dapat dibatasi seminim mungkin.
3. Perencanaan
memberikan kesempatan untuk memilih berbagai alternatif tentang cara
yang terbaik atau kesempatan untuk memilih kombinasi cara yang terbaik.
4. Dengan
perencanaan dapat dilakukan penyusunan skala prioritas. Memilih
urutan-urutan dari segi pentingnya suatu tujuan, sasaran maupun
kegiatan usahanya.
5. Dengan adanya rencana maka akan ada suatu alat pengukur untuk mengadakan suatu pengawasan dan evaluasi.
6. Penggunaan
dan alokasi sumber-sumber pembangunan yang terbatas adanya secara lebih
efisien dan efektif. Diusahakan dihindarinya keborosan-keborosan. Suatu
usaha untuk mencapai output/hasil secara maksimal daripada
sumber-sumber yang tersedia.
7. Dengan perencanaan, perkembangan ekonomi yang mantap atau pertumbuhan ekonomi yang terus menerus dapat ditingkatkan.
8. Dengan perencanaan dapat dicapai stabilitas ekonomi, menghadapi siklis konjungtur.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar