Selasa, 12 November 2013

Analisis Kinerja Keuangan Dan Indikasi Earnings Management sebelum dan sesudah Akuisisi perbankan oleh Investor Asing


KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penyusun panjatkan atas segala limpahan rahmat dan karunia Allah SWT, karenaNya penyusun dapat menyelesaikan makalah ini. Shalawat serta salam semoga tetap terlimpahcurahkan kepada Nabi Muhammad SAW, rosul penutup dan pemberi syafaat yang mulia. Makalah ini merupakan salah satu tugas mata kuliah, Bahasa Indonesia 2 adapun judul makalah ini adalah “ANALISIS KINERJA KEUANGAN DAN INDIKASI EARNINGS MANAGEMENT SEBELUM DAN SESUDAH AKUISISI PERBANKAN OLEH INVESTOR ASING”
        Penyusun menyadari  makalah ini masih banyak kekurangan dalam penyusunannya. Untuk itupenyusun menerima saran dan  kritik yang membangun agar supaya adanya perbaikan.
        Akhirnya, penyusun sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini. Terima kasih atas perhatiannya dan mohon maaf atas segala kekurangan. Besar harapan semoga makalah ini bermanfaat bagi penyusun khususnya dan bagi pembaca umumnya.

                                                                                                          Bekasi,  November 2013



                                                                                                                     Penyusun
  ANALISIS KINERJA KEUANGAN DAN INDIKASI EARNINGS MANAGEMENT SEBELUM DAN SESUDAH AKUISISI PERBANKAN OLEH INVESTOR ASING

BAB I
PENDAHULUAN

 A. LATAR BELAKANG
Sejak terjadinya krisis moneter di Indo-nesia pada tahun 1997-1998 hingga terpuruk-nya perekonomian nasional terutama di sek-tor keuangan dan perbankan, munculah waca-na akuisisi perusahaan-perusahaan di Indone-sia untuk kemudian diserahkan sebagian atau keseluruhan kepemilikan dan pengelolaannya kepada pihak asing atau investor dari luar ne-geri. Ide tersebut seolah-olah menjadi solusi terbaik atas krisis yang sedang terjadi. Pada tahun 2003 wacana akuisisi oleh pihak asing tersebut mulai banyak yang direalisasikan baik di sektor pemerintah atau BUMN mau-pun sektor swasta termasuk diantaranya in-dustri perbankan.
Akuisisi Perusahaan Terbuka adalah tindakan, baik langsung maupun tidak lang-sung, yang mengakibatkan perubahan Pe-ngendali Perusahaan Terbuka. Akuisisi ada-lah pembelian suatu perusahaan oleh perusa-haan lain atau oleh kelompok investor. Mer-ger dan akuisisi di Indonesia secara umum JURNAL SOCIOSCIENTIA KOPERTIS WILAYAH XI KALIMANTAN diatur dalam Undang-undang Nomor 40 Ta-hun 2007 mengenai Perseroan Terbatas, Pera-turan Pemerintah No. 27/1998 mengenai Penggabungan, Peleburan dan Akuisisi Perse-roan Terbatas, Peraturan Pemerintah No. 28/1999 mengenai Merger, Konsolidasi dan Akuisisi Bank dan peraturan-peraturan lain yang terkait. Untuk Perusahaan Terbuka, merger dan akuisisi diatur dalam Peraturan Bapepam No. IX.G.1 mengenai Penggabung-an dan Peleburan Usaha Perusahaan Publik atau Emiten. Menurut Peraturan Pemerintah No. 28 Tahun 1999 tanggal 7 Mei 1999 tentang Merger, Konsolidasi dan Akuisisi Bank. Pe-ngambil alihan atau akuisisi bank adalah me-ngendalikan bank dengan cara Akuisisi meng-akibatkan penguasaan >25% saham, kecuali dibuktikan sebaliknya atau Akuisisi tidak me-ngakibatkan penguasaan >25% saham, tetapi dapat dibuktikan pengakuisisi secara langsung atau tidak langsung mengendalikan bank terse-but.
Berdasarkan PSAK No. 22 (IAI, 2007) akuisisi adalah suatu penggabungan usaha dari dua perusahaan atau lebih dan salah satu perusahaan, yaitu pengakuisisi memperoleh kendali atas aktiva neto dan operasi perusa-haan yang diakuisisi dengan memberikan ak-tiva tertentu, mengakuisisi suatu kewajiban, atau dengan mengeluarkan saham.
Beberapa penelitian sebelumnya yang berkaitan dengan akuisisi dan kinerja keuang-an perusahaan seperti yang telah di lakukan Payamta (2000) yang menyatakan ada ke-mungkinan terjadi tindakan window dressing atas pelaporan keuangan perusahaan untuk tahun-tahun sebelum merger dan akuisisi. Secara teori, setelah akuisisi ukuran perusa-haan dengan sendirinya bertambah besar ka-rena aset, kewajiban, dan ekuitas perusahaan digabung bersama. Dasar logis dari peng-ukuran berdasarkan akuntansi adalah bahwa jika ukuran bertambah besar ditambah de-ngan sinergi yang dihasilkan dari aktivitas-aktivitas yang simultan, maka laba perusahaan juga akan semakin meningkat. Oleh karena itu, kinerja pasca akuisisi seharusnya semakin baik dibandingkan dengan sebelum akuisisi. Sedangkan penelitian Dewi (2008) yang menggunakan rasio-rasio likuiditas (current ratio), profitabilitas (ROI), aktivitas (TAR), dan solvabilitas (debt to equity ratio), menyatakan bahwa rasio CR dan TAR meng-alami peningkatan yang signifikan pada pe-riode setelah akuisisi, sedangkan rasio ROI dan DER mengalami penurunan yang sig-nifikan pada periode setelah akuisisi.
Dalam pelaksanaan akuisisi terdapat suatu kondisi yang mendukung adanya tin-dakan earnings management yang dilakukan oleh perusahaan pengakuisisi. Pada kasus akuisisi perbankan di Indonesia oleh pihak asing ini sudah dapat diduga terjadi earnings management oleh agen lama dengan tujuan untuk meningkatkan posisi tawar perusahaan saat akuisisi oleh pihak asing. Kemudian agen asing yang mengambil alih sudah tentu juga memiliki tanggung jawab untuk mem-buktikan kenerjanya dengan menampilkan hasil kinerja perusahaan yang lebih baik mes-kipun kinerja sebelum akuisisi merupakan hasil earnings management. Dengan demi-kian kuat dugaan dan menjadi kekhawatiran bahwa agen baru akan mengambil langkah mudah dengan kembali melakukan earnings management lagi.

B. RUMUSAN MASALAH.
Berdasarkan uraian di atas maka yang menjadi pokok permasalahan dalam pene-litian ini adalah:
1) Apakah terjadi perbedaan kinerja keuangan perusahaan perbankan se-belum dan sesudah akuisisi oleh pihak asing di Bursa Efek Indonesia?
2) Apakah perusahaan perbankan terindikasi melakukan earnings management pada periode sebelum dan sesudah akuisisi oleh pihak asing di Bur-sa Efek Indonesia?

BABII
PEMBAHASAN

Berdasarkan uraian tersebut maka hipo-tesis yang dikembangkan sebagai berikut:
H1: Ada perbedaan kinerja keuangan per-bankan sebelum dan sesudah akuisisi.
 Indikasi Earnings Management Sebelum dan Sesudah Akuisisi
                  Bukti-bukti empiris menunjukkan bahwa earnings atau laba telah dijadikan sebagai suatu target dalam proses penilaian prestasi usaha suatu departemen secara khu-sus (manajer) atau perusahaan (organisasi) secara umum (Gumanti, 2000). Disamping itu, laba atau tingkat keuntungan juga meru-pakan alat untuk mengurangi biaya keagenan (agency cost), dari sisi teori keagenan (agen-cy theory), dan juga biaya kontrak (constrac-ting theory). Misalnya, pada saat keuntungan dijadikan sebagai patokan dalam pemberian bonus, hal ini akan menciptakan dorongan kepada manajer untuk memanipulasi data ke-uangan agar dapat menerima bonus sseperti yang diinginkannya. Alasan lain adalah me-ngingat akan pentingnya keuntungan atau pe-rolehan secara akuntansi (accounting income) untuk pembuatan keputusan oleh banyak pi-hak, misalnya investor, penyedia dana (kredi-tor), manajer, pemilik atau pemegang saham, dan pemerintah. Melihat kenyataan tersebut, tidak mengherankan bila banyak manajer me-manipulasi data keuangan atau laba untuk kepentingan-kepentingan tertentu.
Sukartha (2008) meneliti 54 perusaha-an target yang terlibat akuisisi eksternal yang berhasil diselesaikan di Bursa Efek Jakarta sejak tahun 1990-2005. Hasil penelitian me-nunjukkan perusahaan target akuisisi melaku-kan earnings management dengan cara me-naikkan jumlah akrual diskresioner saat pu-blikasi terakhir sebelum akuisisi.
Berdasarkan uraian tersebut maka hi-potesis yang dikembangkan sebagai berikut:
H2a : Perusahaan perbankan terindikasi me-lakukan earnings management pada periode sebelum akuisisi perusahaan.
H2b : Perusahaan perbankan terindikasi melakukan earnings management pa-da periode sesudah akuisisi perusaha-an.

METODE PENELITIAN
Populasi dan Sampel
Populasi yang digunakan dalam peneli-tian ini adalah perusahaan perbankan yang go public pada periode 2000 sampai dengan 2007. Sampel dalam penelitian ini diperoleh dengan metoda purposive sampling dengan kriteria sebagai berikut: (1) perusahaan per-bankan yang diakuisisi asing pada periode penelitian tahun 2000-2007; (2) menerbitkan laporan keuangan yang telah diaudit dari ta-hun 2000 sampai dengan 2007; dan, (3) data yang dibutuhkan tersedia lengkap.
Data dalam penelitian ini adalah data sekunder yang diperoleh dari laporan keuang-an auditan perusahaan perbankan yang ter-daftar di Bursa Efek Indonesia pada tahun 2000-2007 yang telah dipublikasikan. Lapo-ran keuangan tersebut diperoleh dari Indone-sian Capital Market Directory (ICMD) dan di website Bursa Efek Indonesia yaitu www. idx.co.id.

Variabel dan Pengukurannya
Variabel dalam penelitian adalah se-bagai berikut:
1. Kinerja keuangan
Kinerja keuangan didefinisikan sebagai prestasi manajemen dalam hal ini manajemen keuangan dalam mencapai tujuan perusahaan yaitu menghasilkan keuntungan dan mening-katkan nilai perusahaan. Kinerja keuangan di-ukur dengan menggunakan rasio CAMEL yang terdiri dari tujuh rasio (Payamta dan Machfoedz, 1999).Penelitian yang menggunakan rasio-rasio yang merefleksikan CAMEL dilakukan juga oleh Whalen dan Thomson (1988). Da-lam penelitian itu di gunakan data keuangan untuk mengklasifikasikan bank yang berma-salah dan yang tidak bermasalah. Sampel ter-diri dari 50 bank yang diperiksa oleh Federal Reserve Bank of Cleveland atau bank-bank yang berlokasi di Ohio, Western Pennsyl-vania, Eastern Kentucky, dan West Virginia. Rating CAMEL dari masing-masing bank di-ambil sebagai on-site examination antara November 1983 dan Juli 1986. Dengan tek-nik logit regression, construct dari modal di-gunakan untuk memprediksi perubahan rating CAMEL atau kondisi keuangan dari sampel bank. Riset ini menemukan bahwa rasio ke-uangan CAMEL cukup akurat dalam menyu-sun rating bank.
Di Indonesia penetapan CAMEL ter-tuang dalam Surat Edaran Bank Indonesia No.6/23/DPNP tanggal 31 Mei 2004 dan per-aturan Bank Indonesia No.6/10/PBI/2004 tanggal 12 April 2004 yang mengatur tentang Sistem Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Umum. Bank wajib melakukan penilaian tingkat kesehatan bank secara triwulan untuk posisi bulan Maret, Juni, September, dan Desember. Apabila diperlukan Bank Indone-sia meminta hasil penilaian tingkat kesehatan bank tersebut secara berkala atau sewaktu-waktu untuk posisi penilaian tersebut teru-tama untuk menguji ketepatan dan kecukupan hasil analisis bank. Penilaian tingkat keseha tan bank dimaksud diselesaikan selambat-lambatnya 1 (satu) bulan setelah posisi peni-laian atau dalam jangka waktu yang dite-tapkan oleh pengawas bank.
2. Earnings Management
Indikasi earnings management pada penelitian ini diukur dengan cara memban-dingkan distribusi dari earnings yang distan-darisasi dengan total asset tahun sebelumnya dengan net cash flow operation yang juga distandarisasi dengan total asset tahun sebe-lumnya dan keduanya dibandingkan dengan earnings dan net cash flow operation pada periode patokannya (Irawan dan Gumanti, 2008). Tujuan menstandarisasi earnings dan net cash flow operation dengan total asset tahun sebelumnya adalah menghindari bias pada ukuran perusahaan sampel. Pendekatan yang dilakukan dalam penelitian ini konsisten dengan pendekatan yang digunakan oleh Irawan dan Gumanti (2008) dan Holland dan Ramsay (2003), yaitu dengan mencoba mengamati level, perubahan, dan pertumbuh-an dari net income after tax dan cashflow from operation yang distandarisasi dengan to-tal asset tahun sebelumnya untuk mendeteksi indikasi earnings management yang dilaku-kan perusahaan untuk disesuaikan dengan pedoman keuntungan yang ditetapkan, dalam hal ini asumsi yang digunakan peneliti seja-lan dengan Jain dan Kini (1994) yakni meng-gunakan tahun paling akhir dari laporan ke-uangan lengkap tahunan sebagai patokan (benchmarks) dalam menjelaskan performa keuangan dari perusahan yang akuisisi asing.
3. Metode Analisis Data
Setelah melakukan pengukuran masing-masing variabel, selanjutnya akan dilakukan pengujian statistik untuk dapat membuktikan hipotesis yang dirumuskan. Pengujian hipote-sis pada penelitian ini menggunakan alat uji non parametrik yang didasarkan pada pertim-bangan bahwa data yang diuji berasal dari sampel kecil. Untuk menguji dan menganali-sa data digunakan software SPSS (Statistical Program for Social Science) versi 16.0. Ada-pun alat uji yang digunakan adalah Uji Pe-ringkat Tanda Wilcoxon (Wilcoxon’s Signed Rank’s Test).
Alat uji ini digunakan untuk meng-eva-luasi perlakukan tertentu pada dua pengamat-an yakni sebelum dan sesudah adanya perla-kuan tertentu. Pengujian ini didasarkan pada tanda positif atau negatif dan besarnya per-bedaan tersebut. Penelitian Megginson et al. (1994) menggunakan Uji Peringkat Tanda Wilxocon dalam membuktikan adanya per-bedaan kinerja perusahaan sebelum dan se-sudah initial public offering. Adapun lang-kah-langkah yang dilakukan dalam pengujian ini adalah:
a) Menentukan bilangan beda (delta) antara amatan pertama (X1) dengan amatan kedua (X2) atau D = X1-X2.
b) Ranking atau penjejangan terhadap nilai D dalam harga mutlak (tanda negatif diabaikan).
c) Memberi tanda negatif pada nilai jenjang yang memiliki nilai D negatif.
d) Menjumlahkan nilai-nilai jenjang yang bertanda negatif dan yang bertanda positif secara terpisah.
e) Menentukan nilai T yaitu jumlah nilai jenjang yang lebih kecil.
f) Menghitung N yaitu jumlah kasus yang mempunyai nilai D tidak nihil.
g) Menghitung nilai Z.

HASIL DAN PEMBAHASAN
Statistik Deskriptif
Hasil statistik deskriptif yaitu mendes-kripsikan data dari seluruh variabel yang akan dimasukkan dalam model penelitian.
Analisis Kinerja Keuangan Sebelum dan Sesudah Akuisisi
1. Capital Adequacy Ratio (CAR)
Modal merupakan faktor yang penting dalam rangka pengembangan usaha dan un-tuk menampung risiko kerugiannya. Modal berfungsi untuk membiayai operasi, dan se-bagai alat untuk ekpansi usaha. Penelitian as-pek permodalan suatu bank lebih dimaksud-kan untuk mengetahui bagaimana atau berapa modal bank tersebut telah memadai untuk menunjang kebutuhannya. Pada penelitian ini kecukupan modal dinilai berdasarkan ratio CAR.
Dari hasil analisis yang diperoleh dari menujukkan bahwa rata-rata CAR mengalami penurunan dari periode sebelum ke periode sesudah diambilalih asing yaitu dari 19,1 persen menjadi 15,0 persen. Hal ini menun-jukkan bahwa kinerja perusahaan untuk rasio CAR setelah diambil alih oleh asing menga-lami penurunan. Secara statistik penurunan rasio tersebut berbeda secara signifikan. Hal ini dapat dilihat dari nilai Z hitung sebesar -2,118 dengan signifikansi sebesar 0,034 yang lebih kecil dari 0,05. Hasil tersebut menun-jukkan bahwa rasio CAR secara statistik mengalami perbedaan antara sebelum dan sesudah akuisisi bank oleh asing.
2. Rasio Return on Risked Assets (RORA)
Penyesuaian terhadap kualitas aktiva produktif dilakukan karena di Indonesia ha-nya Bank Indonesia dan bank yang bersang-kutan yang mengetahui tingkat kolektibilitas (lancar, kurang lancar, diragukan atau macet) kualitas aktiva tersebut (Amri dan Husni, 1993). Aspek kualitas aktiva produktif dalam penelitian ini diproksikan dengan Return on Risked Assets (RORA). RORA mengukur ke-mampuan bank dalam berusaha mengopti-malkan aktiva yang dimiliki untuk memper-oleh laba.
Dari hasil analisis yang diperoleh dari menujukkan bahwa rata-rata rasio RORA sebelum akuisisi sebesar 2,7 persen turun men-jadi 2,3 persen sesudah akuisisi oleh asing. Rasio ini mengalami penurunan dan secara statistik berbeda signifikan hal ini ditunjuk-kan dari Z hitung sebesar -2,158 dengan sig-nifikansi sebesar 0,031 yang lebih kecil dari tingkat signifikansi 0,05. Hal ini menunjuk-kan bahwa terjadi perbedaan kinerja pada ra-sio RORA antara sebelum dan sesudah akui-sisi bank oleh asing.
3. Rasio Net Profit Margin (NPM)
Aspek manajemen pada penelitian ki-nerja bank tidak dapat menggunakan pola yang ditetapkan Bank Indonesia, tetapi di-proksikan dengan profit margin (Riyadi, 1993). Alasannya, seluruh kegiatan manaje-men suatu bank yang mencakup manajemen permodalan, manjemen kualitas aktiva, ma-najemen umum, manajemen rentabilitas, dan manajemen likuiditas pada akhirnya akan mempengaruhi dan bermuara pada perolehan laba.
Dari hasil analisis yang diperoleh dari menujukkan bahwa rata-rata rasio NPM sebe-lum akuisisi sebesar 21,2 persen turun menja-di 15,5 persen sesudah akuisisi oleh asing. Rasio ini mengalami penurunan dan secara statistik berbeda signifikan hal ini ditunjuk-kan dari Z hitung sebesar -2,040 dengan sig-nifikansi sebesar 0,041 yang lebih kecil dari tingkat signifikansi 0,05. Hal ini menunjuk-kan bahwa terjadi perbedaan kinerja pada ra-sio NPM antara sebelum dan sesudah akuisisi bank oleh asing.
4. Return on Assets (ROA)
Rasio ROA mengukur kemampuan bank dalam menghasilkan laba dengan meng-gunakan aktiva yang dimilikinya, dan juga mengukur efisiensi penggunaan modal. Dari hasil analisis yang diperoleh dari menujukkan bahwa rata-rata rasio ROA sebelum akuisisi sebesar 1,4 persen naik menjadi 1,8 persen sesudah akuisisi oleh asing. Rasio ini meng alami peningkatan, secara statistik peningkat-an tersebut berbeda signifikan hal ini ditun-jukkan dari Z hitung sebesar -2,672 dengan signifikansi sebesar 0,008 yang lebih kecil dari tingkat signifikansi 0,05. Hal ini menun-jukkan bahwa terjadi perbedaan kinerja pada rasio ROA antara sebelum dan sesudah akui-sisi bank oleh asing.
5. Rasio Beban Operasional terhadap Pen-dapatan Operasional (BOPO)
Rasio BOPO merupakan perbandingan antara beban operasional dengan pendapatan operasional perusahaan. Dari hasil analisis yang diperoleh dari menujukkan bahwa rata-rata rasio BOPO sebelum akuisisi sebesar 73,1 persen meningkat menjadi 80,0 persen sesudah akuisisi oleh asing. Peningkatan ra-sio ini mengindikasikan kinerja perusahaan mengalami penurunan antara sebelum dengan sesudah akuisisi oleh asing. Penurunan rasio BOPO signifikan secara statistik, ini ditun-jukkan dari Z hitung sebesar -2,197 dengan signifikansi sebesar 0,028 yang lebih kecil dari tingkat signifikansi 0,05. Hal ini menun-jukkan bahwa terjadi perbedaan kinerja pada rasio BOPO antara sebelum dan sesudah akuisisi bank oleh asing.
6. Rasio Call Money terhadap Aktiva Lan-car (LQ1)
Rasio call money terhadap aktiva lancar merupakan rasio likuiditas bank. Dari hasil analisis yang diperoleh dari menujukkan bah-wa rata-rata rasio LQ1 sebelum akuisisi sebe-sar 17,4 persen turun menjadi 17,0 persen sesudah akuisisi oleh asing. Rasio ini meng-alami peningkatan kinerja, tetapi secara sta-tistik peningkatan tersebut tidak berbeda sig-nifikan hal ini ditunjukkan dari Z hitung se-besar -0,863 dengan signifikansi sebesar 0,388 yang lebih besar dari tingkat signi-fikansi 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa ti-dak terjadi perbedaan kinerja pada rasio LQ1 antara sebelum dan sesudah akuisisi bank oleh asing.
7. Loan to Deposit Ratio (LQ2)
Rasio Loan to Deposit juga merupakan rasio likuiditas bank dimaksudkan untuk mengukur seberapa besar kemampuan bank tersebut mampu membayar utang utang-nya dan membayar kembali kepada deposan-nya serta dapat memenuhi permintaan kredit yang diajukan tanpa terjadi penangguhan.
Dari hasil analisis yang diperoleh dari menujukkan bahwa rata-rata rasio LQ2 sebe-lum akuisisi sebesar 42,3 persen meningkat menjadi 67,8 persen sesudah akuisisi oleh asing. Peningkatan rasio ini mengindikasikan kinerja perusahaan mengalami penurunan an-tara sebelum dengan sesudah akuisisi oleh asing. Penurunan rasio LQ2 signifikan secara statistik, ini ditunjukkan dari Z hitung sebesar -2,824 dengan signifikansi sebesar 0,005 yang jauh lebih kecil dari tingkat signifikansi 0,05. Hal ini menunjukkan bahwa terjadi per-bedaan kinerja pada rasio LQ2 antara sebe-lum dan sesudah akuisisi bank oleh asing.
Dari hasil analisis ketujuh rasio yang mewakili rasio CAMEL disimpulkan bahwa rata-rata kinerja perusahaan setelah akuisisi mengalami penurunan kinerja. Hasil peneli-tian ini mendukung penelitian yang dila-kukan Usadha dan Yasa (2006) dan Andayani dan Salim (2004), yang memberi bukti em-piris bahwa kinerja keuangan perusahaan ber-beda sebelum dan sesudah merger dan akui-sisi.
Indikasi Earnings Management
Penelitian ini membandingkan antara distribusi dari earnings (NPAT) dan cashflow operation (NCFO) untuk membuktikan apa-kah perusahaan yang diambil alih oleh asing pada periode 2000-2007 terindikasi melaku-kan earnings management pada periode se-belum dan sesudah akuisisi. Sejalan dengan Irawan dan Gumanti (2008) yang menyatakan bahwa cashflow from operation (NCFO) ti-dak dapat dimanipulasi dengan metode akuntansi apapun, tetapi earnings (NPAT) dapat diatur dengan menggunakan metode akuntansi tertentu, indikasi earnings mana-gement pada penelitian ini dapat dideteksi dengan membandingkan distribusi nilai ear-nings dan cashflow pada periode sebelum dan sesudah akuisisi oleh asing.
Pengujian hipotesis yang dilakukan untuk masing-masing periode, yaitu periode sebelum akuisisi dan periode sesudah akui-sisi secara ringkas dinyatakan sebagai beri-kut:
1. Pada periode sebelum akuisisi pengu-jian terhadap ada tidaknya earnings management dilakukan dengan uji Wil-coxon terhadap earnings periode t (rasio NPATt) dengan earnings periode peristi-wa (rasio NPATt0) pada 6 perusahaan per-bankan yang diteliti. Dari hasil pengujian diketahui bahwa terjadi kenaikan ear-nings (rasio NPAT) dari periode t-2 ke periode t0 dan kenaikan tersebut signi-fikan secara statistik dengan Z hitung sebesar 2,201 dan -1,992. Disisi lain, perubahan pada earnings diikuti deng-an perubahan pada cash flow (rasio NCFO) yang mengalami kenaikan dengan Z hi-tung berturut-turut sebesar -,997 dan -1,987 yang berarti perubahan tersebut juga signifikan secara statistik. Hasil pe-ngujian ini. Dengan demikian, indikasi earnings management terbukti pada pe-riode sebelum akuisisi dengan cara me-naikkan laba tanpa diikuti oleh kenaik-an pada arus kas dari aktivitas operasi.
2. Pengujian hipotesis kedua pada periode setelah akuisisi juga dilakukan dengan menggunakan uji Wilcoxon. Hasil uji tersebut menunjukkan bahwa penurunan earnings (rasio NPAT) yang terjadi dari saat akuisisi (rasio NPAT t0) hingga pe-riode dua tahun setelah akuisisi (rasio NPAT t+2) dengan Z hitung berturut-turut sebesar -1,160 dan -0,271 tidak signifikan secara statistik. Penurunan tersebut di-ikuti oleh perubahan cashflow (Rasio NCFO) yang mengalami penurunan se-besar 4,1% dari rasio NCFOt0 ke rasio NCFOt+1 dan sebesar 5,0% dari rasio NCFOt0 ke rasio NCFOt+2 dengan Z hitung berturut-turut -0,734 dan -0,105 adalah tidak signifikan secara statistik. Hasil pengujian ini dapat dilihat pada tabel 7. Dengan demikian, indikasi earnings management tidak terbukti pada periode setelah akuisisi.


BAB  III
PENUTUP
A.Kesimpulan 
Dari perhitungan rasio CAMEL yang terdiri dari Rasio CAR, RORA, NPM, ROA, BOPO, LQ1 dan LQ2 secara rata-rata menun-jukkan adanya penurunan kinerja dan secara statistik terdapat perbedaan yang signifikan pada tingkat kinerja antara sebelum dan sesu-dah akuisisi perusahaan perbankan oleh asing. Rasio ROA terjadi peningkatan antara sebelum dan sesudah, dan peningkatan terse-but secara statistik berbeda yang signifikan. Rasio LQ1 mengalami peningkatan antara sebelum dan sesudah akuisisi, tetapi secara statistik peningkatan tersebut tidak berbeda secara signifikan.
Pengujian terhadap adanya indikasi earnings management pada penelitian ini di-lakukan dengan dengan menguji perilaku net profit after tax (NPAT) yang telah distandari-sasi dengan total asset (TA) tahun sebelumnya (Rasio NPAT) dan net cashflow from opera-tion activities (NCFO) yang juga telah distan-darisasi dengan total asset (TA) tahun sebe-lumnya (Rasio NCFO). Pengujian dilaku-kan pada periode sebelum dan sesudah akuisisi pada 6 perusahaan perbankan yang diakuisisi oleh asing periode tahun 2000-2007. Hasilnya adalah perusa-haan terbukti melakukan tindakan earnings management akuisisi dengan cara income increa-sing, sedangkan untuk periode sesudah akui-sisi indikasi earnings management tidak da-pat dibuktikan. Penjelasan logis atas kondisi tersebut mengacu pada iron law (hukum besi), yaitu manajemen sesudah akuisisi tidak dapat melakukan earnings management lagi dikarenakan manajemen sebelum akuisisi te-lah melakukan earnings management secara maksimal.
B.Saran
Penelitian ini menggunakan pendekat-an yang konsisten dengan Holland dan Ramsay (2003), serta Irawan dan Gumanti (2008) yang tergolong pendekatan sederha-na dalam mendeteksi earnings manage-ment. Penggunaan pendekatan yang lebih kompleks seperti Jones dan Modified Jones dimungkinkan akan memperoleh hasil yang berbeda tentang keberadaan earnings mana-gement. Untuk para peneliti yang berminat mengkaji lebih lanjut pada bidang yang sama disarankan dapat memperpanjang periode pe-ngamatan dan menambah sampel penelitian jenis industri lain sehingga dapat digunakan untuk menyempurnakan penelitian.
BAB 1V
DAFTAR PUSTAKA
 Amin, A., 2007. Earnings Management, Underpricing dan Pengukuran Kinerja Perusahaan yang Melakukan Kebijak-an Initial Public Offering di Indonesia. Simposium Nasional Akuntansi X. Ma-kassar.
Anggraini, Vita, Lely, 2001. Analisis Ke-uangan Perusahaan Sebelum dan Sesu-dah Melakukan Akuisisi, Tesis, Univer-sitas Diponegoro, Semarang.

Gumanti, Tatang Ary, 2000. Earning Mana-gement: Suatu Telaah Pustaka, Jurnal Akuntansi dan Keuangan, Vol.2. No-vember. Universitas Kristen Petra.
-------, 2001. Earnings Management pada Pe-nawaran Pasar Perdana di Bursa Efek Jakarta, Jurnal Riset Akuntansi Indo-nesia. Volume 4, Nomor 2. 165-183.
-------, 2003. An Investigation of Earnings Management in Indonesian Manufac-turing Initial Public Offerings, Gadjah Mada International Journal of Bu-siness. Volume 5, Nomor 3. 345-362.
-------, 2006. Manajemen Laba: Apa dan Me-ngapa, Kajian Akuntansi.Volume 1. Juni. 1-13.
Holland, D. dan Ramsay, D., 2003. Do Aus-tralian Companies Manage Earnings to Meet Simple Earnings Benchmarks, Accounting and Finance. Volu-me 43. 41-62.
Ikatan Akuntan Indonesia, 2007. Standar Akuntansi Keuangan. Salemba Empat, Jakarta.
Indriantoro, Nur. dan Supomo, Bambang, 2002. Metode Penelitian Bisnis: untuk Akuntansi dan Manajemen, Edisi Per-tama, Cetakan Kedua, BPFE, Yogya-karta.
Irawan, Adi dan Gumanti, Tatang Ary, 2008. Indikasi Earnings Management pada Initial public Offering. Simposium Na-sional Akuntansi XII, Palembang.
Kusuma, Hadri dan Wigina Ayu Udiana Sari, 2003. Manajemen Laba oleh Perusa-haan Pengakuisisi Sebelum dan Sesu-dah Merger dan Akuisisi di Indonesia, Jurnal Akuntansi dan Auditing Indone-sia. Vol. 7. No. 1. Juni. p. 21-36.
Schipper, Katherine, 1989. Commentary on Earnings Management. Journal Ac-counting Horizon. Vol 3. No 4. hal. 91-102.
Scott, W.R., 2000. Financial Accounting Theory. Second Edition. New Jersey: Prentice Hall.
Setiawati, Lilis, 2002. Manajemen Laba dan IPO di Bursa Efek Jakarta. Simpo ANALISIS KINERJA KEUANGAN DAN INDIKASI EARNINGS MANAGEMENT SEBELUM DAN SESUDAH AKUISISI PERBANKAN OLEH INVESTOR ASING Kusuma Indawati Halim 70 sium Nasional Akuntansi V. hal.112-115.
Sugiyono, 2006. Metode Penelitian Bisnis, Cetakan ke-9, Alfabeta, Bandung.
Sukartha, I Made, 2008. Pengaruh Manaje-men Laba, Kepemilikan Manajerial dan Ukuran Perusahaan pada Kese-jahteraan Pemegang Saham Perusa-haan Target Akuisisi, Disertasi. Uni-versitas Gajah Mada, Yogyakarta.
Sutanto, Imam, 2000. Indikasi Manajemen Laba Menjelang IPO oleh Perusaha-an-perusahaan yang Terdaftar di Bursa Efek Jakarta, Tesis, Universitas Gajah Mada, Yogyakarta.
Sutrisno, 2002. Studi Manajemen Laba (Ear-nings Management): Evaluasi Pan-dangan Profesi Akuntansi, Pemben tukan dan Motivasinya. Kompak. p.158-179.
Suwardi, 2008. Analisis Kinerja Keuangan Sebelum dan Sesudah Merger pada PD BPR BKK Purwodadi, Tesis, Uni-versitas Diponegoro, Semarang.
Titik Haryati dan Hekinus Manao, 2005. Rasio Keuangan sebagai Prediktor Bank Bermasalah di Indonesia, Jur-nal Riset Akuntansi Indonesia, Vol.5. No. 2. Mei.
Van Horne, James C., 2005. Financial Mana-gement and Policy, Twelfth Edition, Prentice Hall, London.
Wild.J.J., K.R.Subramanyam dan R.F. Halsey, 2003. Financial Statement Analysis, Eight Edition, McGraw-Hill, Singapore.

Jumat, 08 November 2013

PENALARAN INDUKTIF

PENALARAN INDUKTIF

Penalaran Induktif adalah Proses yang berpangkal dari peristiwa yang khusus yang dihasilkan berdasarkan hasil pengamatan empirik dan mengjasilkan suatu kesimpulan atau pengetahuan yang bersifat umum.
Contoh Penalaran Induktif :
kucing berdaun telinga berkembang biak dengan melahirkan. kelinci berdaun telinga berkembang biak dengan melahirkan. Panda berdaun telinga berkembang biak dengan melahirkan.
Kesimpulan : semua hewan yang berdaun telinga berkembang biak dengan melahirkan.

Bentuk-Bentuk Penalaran Induktif:
a) Generalisasi
Generalisasi adalah proses penalaran yang bertolak dari fenomena individual menuju   kesimpulan umum.
Contoh:
·         Billi Davidson adalah bintang film, dan ia berwajah tampan.
·         Rizky Nazar adalah bintang film, dan ia berwajah tampan.
Generalisasi: Semua bintang film berwajah tampan. Pernyataan “semua bintang film berwajah tampan” hanya memiliki kebenaran probabilitas karena belum pernah diselidiki kebenarannya.
Contoh kesalahannya: Sapri juga bintang iklan, tetapi tidak berwajah tampan.

Macam-macam generalisasi :
1.    Generalisasi sempurna: Generalisasi dimana seluruh fenomena yang menjadi dasar penyimpulan diselidiki.
Contoh: sensus penduduk

2.    Generalisasi tidak sempurna: Generalisasi dimana kesimpulan diambil dari sebagian fenomenayang diselidiki diterapkan juga untuk semua fenomena yang belum diselidiki.
Contoh: Hampir seluruh pria dewasa di Indonesia senang memakai celana pantaloon.

Prosedur pengujian generalisasi tidak sempurna. Generalisasi yang tidak sempurna juga dapat menghasilkan kebenaran apabila melalui prosedur pengujian yang benar.

b) Anologi
Proses penalaran untuk menarik kesimpulan/referensi tentang kebenaran suatu gejala khusus berdasarkan kebenaran suatu gejala khusus lain yang memiliki sifat-sifat esensial penting yang bersamaan.
 Contoh analogi :
Untuk menjadi seorang pemain bola yang professional atau berprestasi dibutuhkan latihan yang rajin dan ulet. Begitu juga dengan seorang doktor untuk dapat menjadi doktor yang professional dibutuhkan pembelajaran atau penelitian yang rajin yang rajin dan ulet. Oleh karena itu untuk menjadi seorang pemain bola maupun seorang doktor diperlukan latihan atau pembelajaran.

Jenis-jenis Analogi:

1. Analogi induktif :
Analogi induktif, yaitu analogi yang disusun berdasarkan persamaan yang ada pada dua fenomena, kemudian ditarik kesimpulan bahwa apa yang ada pada fenomena pertama terjadi juga pada fenomena kedua. 
 Contoh analogi induktif :
Tim Uber Indonesia mampu masuk babak final karena berlatih setiap hari. Maka tim Thomas Indonesia akan masuk babak final jika berlatih setiap hari.

2. Analogi deklaratif :
Analogi deklaratif merupakan metode untuk menjelaskan atau menegaskan sesuatu yang belum dikenal atau masih samar, dengan sesuatu yang sudah dikenal
 contoh analogi deklaratif :
Deklaratif untuk penyelenggaraan negara yang baik diperlukan sinergitas antara kepala negara dengan warga negaranya. Sebagaimana manusia, untuk mewujudkan perbuatan yang benar diperlukan sinergitas antara akal dan hati.

c)      Hubungan kausal
penalaran yang diperoleh dari gejala-gejala yang saling berhubungan. Hubungan kausal (kausalitas) merupakan perinsip sebab-akibat yang sudah pasti antara segala kejadian, serta bahwa setiap kejadian memperoleh kepastian dan keharusan serta kekhususan-kekhususan eksistensinya dari sesuatu atau berbagai hal lainnya yang mendahuluinya, merupakan hal-hal yang diterima tanpa ragu dan tidak memerlukan sanggahan.
Macam hubungan kausal : 
1.  Sebab- akibat. 
Contoh: Penebangan liar dihutan mengakibatkan tanah longsor. 
 2. Akibat – Sebab. 
Contoh: Andri juara kelas disebabkan dia rajin belajar dengan baik.
3.  Akibat – Akibat.
Contoh:Toni
 melihat kecelakaan dijalanraya, sehingga Toni beranggapan adanya korban kecelakaan.