KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penyusun panjatkan
atas segala limpahan rahmat dan karunia Allah SWT, karenaNya penyusun dapat
menyelesaikan makalah ini. Shalawat serta salam semoga tetap terlimpahcurahkan
kepada Nabi Muhammad SAW, rosul penutup dan pemberi syafaat yang mulia. Makalah
ini merupakan salah satu tugas mata kuliah, Bahasa Indonesia 2 adapun judul
makalah ini adalah “ANALISIS KINERJA KEUANGAN DAN INDIKASI EARNINGS
MANAGEMENT SEBELUM DAN SESUDAH AKUISISI PERBANKAN OLEH INVESTOR ASING”
Penyusun menyadari makalah ini masih banyak kekurangan dalam penyusunannya. Untuk itupenyusun menerima saran dan kritik yang membangun agar supaya adanya perbaikan.
Akhirnya, penyusun sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini. Terima kasih atas perhatiannya dan mohon maaf atas segala kekurangan. Besar harapan semoga makalah ini bermanfaat bagi penyusun khususnya dan bagi pembaca umumnya.
Penyusun menyadari makalah ini masih banyak kekurangan dalam penyusunannya. Untuk itupenyusun menerima saran dan kritik yang membangun agar supaya adanya perbaikan.
Akhirnya, penyusun sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini. Terima kasih atas perhatiannya dan mohon maaf atas segala kekurangan. Besar harapan semoga makalah ini bermanfaat bagi penyusun khususnya dan bagi pembaca umumnya.
Bekasi, November 2013
Penyusun
ANALISIS KINERJA
KEUANGAN DAN INDIKASI EARNINGS MANAGEMENT SEBELUM DAN SESUDAH AKUISISI
PERBANKAN OLEH INVESTOR ASING
BAB I
PENDAHULUAN
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Sejak terjadinya krisis moneter di
Indo-nesia pada tahun 1997-1998 hingga terpuruk-nya perekonomian nasional
terutama di sek-tor keuangan dan perbankan, munculah waca-na akuisisi
perusahaan-perusahaan di Indone-sia untuk kemudian diserahkan sebagian atau
keseluruhan kepemilikan dan pengelolaannya kepada pihak asing atau investor
dari luar ne-geri. Ide tersebut seolah-olah menjadi solusi terbaik atas krisis
yang sedang terjadi. Pada tahun 2003 wacana akuisisi oleh pihak asing tersebut
mulai banyak yang direalisasikan baik di sektor pemerintah atau BUMN mau-pun
sektor swasta termasuk diantaranya in-dustri perbankan.
Akuisisi Perusahaan Terbuka adalah
tindakan, baik langsung maupun tidak lang-sung, yang mengakibatkan perubahan
Pe-ngendali Perusahaan Terbuka. Akuisisi ada-lah pembelian suatu perusahaan
oleh perusa-haan lain atau oleh kelompok investor. Mer-ger dan akuisisi
di Indonesia secara umum JURNAL SOCIOSCIENTIA KOPERTIS WILAYAH XI
KALIMANTAN diatur dalam Undang-undang Nomor 40 Ta-hun 2007 mengenai Perseroan
Terbatas, Pera-turan Pemerintah No. 27/1998 mengenai Penggabungan, Peleburan
dan Akuisisi Perse-roan Terbatas, Peraturan Pemerintah No. 28/1999 mengenai Merger,
Konsolidasi dan Akuisisi Bank dan peraturan-peraturan lain yang terkait. Untuk
Perusahaan Terbuka, merger dan akuisisi diatur dalam Peraturan Bapepam
No. IX.G.1 mengenai Penggabung-an dan Peleburan Usaha Perusahaan Publik atau
Emiten. Menurut Peraturan Pemerintah No. 28 Tahun 1999 tanggal 7 Mei 1999
tentang Merger, Konsolidasi dan Akuisisi Bank. Pe-ngambil alihan atau
akuisisi bank adalah me-ngendalikan bank dengan cara Akuisisi meng-akibatkan
penguasaan >25% saham, kecuali dibuktikan sebaliknya atau Akuisisi tidak
me-ngakibatkan penguasaan >25% saham, tetapi dapat dibuktikan pengakuisisi
secara langsung atau tidak langsung mengendalikan bank terse-but.
Berdasarkan PSAK No. 22 (IAI, 2007)
akuisisi adalah suatu penggabungan usaha dari dua perusahaan atau lebih dan
salah satu perusahaan, yaitu pengakuisisi memperoleh kendali atas aktiva neto
dan operasi perusa-haan yang diakuisisi dengan memberikan ak-tiva tertentu,
mengakuisisi suatu kewajiban, atau dengan mengeluarkan saham.
Beberapa penelitian sebelumnya yang
berkaitan dengan akuisisi dan kinerja keuang-an perusahaan seperti yang telah
di lakukan Payamta (2000) yang menyatakan ada ke-mungkinan terjadi tindakan window
dressing atas pelaporan keuangan perusahaan untuk tahun-tahun sebelum merger
dan akuisisi. Secara teori, setelah akuisisi ukuran perusa-haan dengan sendirinya
bertambah besar ka-rena aset, kewajiban, dan ekuitas perusahaan digabung
bersama. Dasar logis dari peng-ukuran berdasarkan akuntansi adalah bahwa jika
ukuran bertambah besar ditambah de-ngan sinergi yang dihasilkan dari
aktivitas-aktivitas yang simultan, maka laba perusahaan juga akan semakin
meningkat. Oleh karena itu, kinerja pasca akuisisi seharusnya semakin baik
dibandingkan dengan sebelum akuisisi. Sedangkan penelitian Dewi (2008) yang
menggunakan rasio-rasio likuiditas (current ratio), profitabilitas
(ROI), aktivitas (TAR), dan solvabilitas (debt to equity ratio),
menyatakan bahwa rasio CR dan TAR meng-alami peningkatan yang signifikan pada
pe-riode setelah akuisisi, sedangkan rasio ROI dan DER mengalami penurunan yang
sig-nifikan pada periode setelah akuisisi.
Dalam pelaksanaan akuisisi terdapat
suatu kondisi yang mendukung adanya tin-dakan earnings management yang
dilakukan oleh perusahaan pengakuisisi. Pada kasus akuisisi perbankan di
Indonesia oleh pihak asing ini sudah dapat diduga terjadi earnings
management oleh agen lama dengan tujuan untuk meningkatkan posisi tawar
perusahaan saat akuisisi oleh pihak asing. Kemudian agen asing yang mengambil
alih sudah tentu juga memiliki tanggung jawab untuk mem-buktikan kenerjanya dengan
menampilkan hasil kinerja perusahaan yang lebih baik mes-kipun kinerja sebelum
akuisisi merupakan hasil earnings management. Dengan demi-kian kuat
dugaan dan menjadi kekhawatiran bahwa agen baru akan mengambil langkah mudah
dengan kembali melakukan earnings management lagi.
B. RUMUSAN MASALAH.
Berdasarkan uraian di atas maka yang menjadi pokok
permasalahan dalam pene-litian ini adalah:
1) Apakah terjadi perbedaan kinerja keuangan perusahaan
perbankan se-belum dan sesudah akuisisi oleh pihak asing di Bursa Efek
Indonesia?
2) Apakah perusahaan perbankan terindikasi melakukan earnings
management pada periode sebelum dan sesudah akuisisi oleh pihak asing di
Bur-sa Efek Indonesia?
BABII
PEMBAHASAN
PEMBAHASAN
Berdasarkan uraian tersebut maka hipo-tesis yang
dikembangkan sebagai berikut:
H1: Ada perbedaan kinerja keuangan per-bankan sebelum dan
sesudah akuisisi.
Indikasi Earnings
Management Sebelum dan Sesudah Akuisisi
Bukti-bukti
empiris menunjukkan bahwa earnings atau laba telah dijadikan sebagai
suatu target dalam proses penilaian prestasi usaha suatu departemen secara
khu-sus (manajer) atau perusahaan (organisasi) secara umum (Gumanti, 2000). Disamping
itu, laba atau tingkat keuntungan juga meru-pakan alat untuk mengurangi biaya
keagenan (agency cost), dari sisi teori keagenan (agen-cy theory),
dan juga biaya kontrak (constrac-ting theory). Misalnya, pada saat
keuntungan dijadikan sebagai patokan dalam pemberian bonus, hal ini akan
menciptakan dorongan kepada manajer untuk memanipulasi data ke-uangan agar
dapat menerima bonus sseperti yang diinginkannya. Alasan lain adalah me-ngingat
akan pentingnya keuntungan atau pe-rolehan secara akuntansi (accounting
income) untuk pembuatan keputusan oleh banyak pi-hak, misalnya investor,
penyedia dana (kredi-tor), manajer, pemilik atau pemegang saham, dan
pemerintah. Melihat kenyataan tersebut, tidak mengherankan bila banyak manajer
me-manipulasi data keuangan atau laba untuk kepentingan-kepentingan tertentu.
Sukartha (2008) meneliti 54
perusaha-an target yang terlibat akuisisi eksternal yang berhasil diselesaikan
di Bursa Efek Jakarta sejak tahun 1990-2005. Hasil penelitian me-nunjukkan
perusahaan target akuisisi melaku-kan earnings management dengan cara
me-naikkan jumlah akrual diskresioner saat pu-blikasi terakhir sebelum
akuisisi.
Berdasarkan uraian tersebut maka hi-potesis yang
dikembangkan sebagai berikut:
H2a : Perusahaan perbankan terindikasi me-lakukan earnings
management pada periode sebelum akuisisi perusahaan.
H2b : Perusahaan perbankan terindikasi melakukan earnings
management pa-da periode sesudah akuisisi perusaha-an.
METODE PENELITIAN
Populasi dan Sampel
Populasi yang digunakan dalam
peneli-tian ini adalah perusahaan perbankan yang go public pada periode
2000 sampai dengan 2007. Sampel dalam penelitian ini diperoleh dengan metoda purposive
sampling dengan kriteria sebagai berikut: (1) perusahaan per-bankan yang
diakuisisi asing pada periode penelitian tahun 2000-2007; (2) menerbitkan
laporan keuangan yang telah diaudit dari ta-hun 2000 sampai dengan 2007; dan,
(3) data yang dibutuhkan tersedia lengkap.
Data dalam penelitian ini adalah
data sekunder yang diperoleh dari laporan keuang-an auditan perusahaan
perbankan yang ter-daftar di Bursa Efek Indonesia pada tahun 2000-2007 yang
telah dipublikasikan. Lapo-ran keuangan tersebut diperoleh dari Indone-sian
Capital Market Directory (ICMD) dan di website Bursa Efek Indonesia
yaitu www. idx.co.id.
Variabel dan Pengukurannya
Variabel dalam penelitian adalah se-bagai berikut:
1. Kinerja keuangan
Kinerja keuangan didefinisikan
sebagai prestasi manajemen dalam hal ini manajemen keuangan dalam mencapai
tujuan perusahaan yaitu menghasilkan keuntungan dan mening-katkan nilai
perusahaan. Kinerja keuangan di-ukur dengan menggunakan rasio CAMEL yang
terdiri dari tujuh rasio (Payamta dan Machfoedz, 1999).Penelitian yang
menggunakan rasio-rasio yang merefleksikan CAMEL dilakukan juga oleh Whalen dan
Thomson (1988). Da-lam penelitian itu di gunakan data keuangan untuk
mengklasifikasikan bank yang berma-salah dan yang tidak bermasalah. Sampel
ter-diri dari 50 bank yang diperiksa oleh Federal Reserve Bank of Cleveland atau
bank-bank yang berlokasi di Ohio, Western Pennsyl-vania, Eastern Kentucky, dan
West Virginia. Rating CAMEL dari masing-masing bank di-ambil sebagai on-site
examination antara November 1983 dan Juli 1986. Dengan tek-nik logit
regression, construct dari modal di-gunakan untuk memprediksi perubahan
rating CAMEL atau kondisi keuangan dari sampel bank. Riset ini menemukan bahwa
rasio ke-uangan CAMEL cukup akurat dalam menyu-sun rating bank.
Di Indonesia penetapan CAMEL
ter-tuang dalam Surat Edaran Bank Indonesia No.6/23/DPNP tanggal 31 Mei 2004
dan per-aturan Bank Indonesia No.6/10/PBI/2004 tanggal 12 April 2004 yang
mengatur tentang Sistem Penilaian Tingkat Kesehatan Bank Umum. Bank wajib
melakukan penilaian tingkat kesehatan bank secara triwulan untuk posisi bulan
Maret, Juni, September, dan Desember. Apabila diperlukan Bank Indone-sia
meminta hasil penilaian tingkat kesehatan bank tersebut secara berkala atau
sewaktu-waktu untuk posisi penilaian tersebut teru-tama untuk menguji ketepatan
dan kecukupan hasil analisis bank. Penilaian tingkat keseha tan bank dimaksud
diselesaikan selambat-lambatnya 1 (satu) bulan setelah posisi peni-laian atau
dalam jangka waktu yang dite-tapkan oleh pengawas bank.
2. Earnings Management
Indikasi earnings management pada
penelitian ini diukur dengan cara memban-dingkan distribusi dari earnings yang
distan-darisasi dengan total asset tahun sebelumnya dengan net cash
flow operation yang juga distandarisasi dengan total asset tahun
sebe-lumnya dan keduanya dibandingkan dengan earnings dan net cash
flow operation pada periode patokannya (Irawan dan Gumanti, 2008). Tujuan
menstandarisasi earnings dan net cash flow operation dengan total
asset tahun sebelumnya adalah menghindari bias pada ukuran perusahaan
sampel. Pendekatan yang dilakukan dalam penelitian ini konsisten dengan
pendekatan yang digunakan oleh Irawan dan Gumanti (2008) dan Holland dan Ramsay
(2003), yaitu dengan mencoba mengamati level, perubahan, dan pertumbuh-an dari net
income after tax dan cashflow from operation yang distandarisasi
dengan to-tal asset tahun sebelumnya untuk mendeteksi indikasi earnings
management yang dilaku-kan perusahaan untuk disesuaikan dengan pedoman
keuntungan yang ditetapkan, dalam hal ini asumsi yang digunakan peneliti
seja-lan dengan Jain dan Kini (1994) yakni meng-gunakan tahun paling akhir dari
laporan ke-uangan lengkap tahunan sebagai patokan (benchmarks) dalam
menjelaskan performa keuangan dari perusahan yang akuisisi asing.
3. Metode Analisis Data
Setelah melakukan pengukuran
masing-masing variabel, selanjutnya akan dilakukan pengujian statistik untuk
dapat membuktikan hipotesis yang dirumuskan. Pengujian hipote-sis pada
penelitian ini menggunakan alat uji non parametrik yang didasarkan pada
pertim-bangan bahwa data yang diuji berasal dari sampel kecil. Untuk menguji
dan menganali-sa data digunakan software SPSS (Statistical Program
for Social Science) versi 16.0. Ada-pun alat uji yang digunakan adalah Uji
Pe-ringkat Tanda Wilcoxon (Wilcoxon’s Signed Rank’s Test).
Alat uji ini digunakan untuk
meng-eva-luasi perlakukan tertentu pada dua pengamat-an yakni sebelum dan
sesudah adanya perla-kuan tertentu. Pengujian ini didasarkan pada tanda positif
atau negatif dan besarnya per-bedaan tersebut. Penelitian Megginson et al. (1994)
menggunakan Uji Peringkat Tanda Wilxocon dalam membuktikan adanya
per-bedaan kinerja perusahaan sebelum dan se-sudah initial public offering.
Adapun lang-kah-langkah yang dilakukan dalam pengujian ini adalah:
a) Menentukan bilangan beda (delta) antara amatan pertama (X1)
dengan amatan kedua (X2) atau D = X1-X2.
b) Ranking atau penjejangan terhadap nilai D dalam harga
mutlak (tanda negatif diabaikan).
c) Memberi tanda negatif pada nilai jenjang yang memiliki
nilai D negatif.
d) Menjumlahkan nilai-nilai jenjang yang bertanda negatif
dan yang bertanda positif secara terpisah.
e) Menentukan nilai T yaitu jumlah nilai jenjang yang lebih
kecil.
f) Menghitung N yaitu jumlah kasus yang mempunyai nilai D
tidak nihil.
g) Menghitung nilai Z.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Statistik Deskriptif
Hasil statistik deskriptif yaitu mendes-kripsikan data dari
seluruh variabel yang akan dimasukkan dalam model penelitian.
Analisis Kinerja Keuangan Sebelum dan Sesudah Akuisisi
1. Capital Adequacy Ratio (CAR)
Modal merupakan faktor yang penting
dalam rangka pengembangan usaha dan un-tuk menampung risiko kerugiannya. Modal
berfungsi untuk membiayai operasi, dan se-bagai alat untuk ekpansi usaha.
Penelitian as-pek permodalan suatu bank lebih dimaksud-kan untuk mengetahui
bagaimana atau berapa modal bank tersebut telah memadai untuk menunjang
kebutuhannya. Pada penelitian ini kecukupan modal dinilai berdasarkan ratio
CAR.
Dari hasil analisis yang diperoleh
dari menujukkan bahwa rata-rata CAR mengalami penurunan dari periode sebelum ke
periode sesudah diambilalih asing yaitu dari 19,1 persen menjadi 15,0 persen.
Hal ini menun-jukkan bahwa kinerja perusahaan untuk rasio CAR setelah diambil
alih oleh asing menga-lami penurunan. Secara statistik penurunan rasio tersebut
berbeda secara signifikan. Hal ini dapat dilihat dari nilai Z hitung sebesar
-2,118 dengan signifikansi sebesar 0,034 yang lebih kecil dari 0,05. Hasil
tersebut menun-jukkan bahwa rasio CAR secara statistik mengalami perbedaan
antara sebelum dan sesudah akuisisi bank oleh asing.
2. Rasio Return on Risked Assets (RORA)
Penyesuaian terhadap kualitas
aktiva produktif dilakukan karena di Indonesia ha-nya Bank Indonesia dan bank
yang bersang-kutan yang mengetahui tingkat kolektibilitas (lancar, kurang
lancar, diragukan atau macet) kualitas aktiva tersebut (Amri dan Husni, 1993).
Aspek kualitas aktiva produktif dalam penelitian ini diproksikan dengan Return
on Risked Assets (RORA). RORA mengukur ke-mampuan bank dalam berusaha
mengopti-malkan aktiva yang dimiliki untuk memper-oleh laba.
Dari hasil analisis yang diperoleh
dari menujukkan bahwa rata-rata rasio RORA sebelum akuisisi sebesar 2,7 persen
turun men-jadi 2,3 persen sesudah akuisisi oleh asing. Rasio ini mengalami
penurunan dan secara statistik berbeda signifikan hal ini ditunjuk-kan dari Z
hitung sebesar -2,158 dengan sig-nifikansi sebesar 0,031 yang lebih kecil dari
tingkat signifikansi 0,05. Hal ini menunjuk-kan bahwa terjadi perbedaan kinerja
pada ra-sio RORA antara sebelum dan sesudah akui-sisi bank oleh asing.
3. Rasio Net Profit Margin (NPM)
Aspek manajemen pada penelitian
ki-nerja bank tidak dapat menggunakan pola yang ditetapkan Bank Indonesia,
tetapi di-proksikan dengan profit margin (Riyadi, 1993). Alasannya, seluruh
kegiatan manaje-men suatu bank yang mencakup manajemen permodalan, manjemen
kualitas aktiva, ma-najemen umum, manajemen rentabilitas, dan manajemen
likuiditas pada akhirnya akan mempengaruhi dan bermuara pada perolehan laba.
Dari hasil analisis yang diperoleh
dari menujukkan bahwa rata-rata rasio NPM sebe-lum akuisisi sebesar 21,2 persen
turun menja-di 15,5 persen sesudah akuisisi oleh asing. Rasio ini mengalami
penurunan dan secara statistik berbeda signifikan hal ini ditunjuk-kan dari Z
hitung sebesar -2,040 dengan sig-nifikansi sebesar 0,041 yang lebih kecil dari
tingkat signifikansi 0,05. Hal ini menunjuk-kan bahwa terjadi perbedaan kinerja
pada ra-sio NPM antara sebelum dan sesudah akuisisi bank oleh asing.
4. Return on Assets (ROA)
Rasio ROA mengukur kemampuan bank
dalam menghasilkan laba dengan meng-gunakan aktiva yang dimilikinya, dan juga
mengukur efisiensi penggunaan modal. Dari hasil analisis yang diperoleh dari
menujukkan bahwa rata-rata rasio ROA sebelum akuisisi sebesar 1,4 persen naik
menjadi 1,8 persen sesudah akuisisi oleh asing. Rasio ini meng alami
peningkatan, secara statistik peningkat-an tersebut berbeda signifikan hal ini
ditun-jukkan dari Z hitung sebesar -2,672 dengan signifikansi sebesar 0,008
yang lebih kecil dari tingkat signifikansi 0,05. Hal ini menun-jukkan bahwa
terjadi perbedaan kinerja pada rasio ROA antara sebelum dan sesudah akui-sisi
bank oleh asing.
5. Rasio Beban Operasional terhadap Pen-dapatan Operasional (BOPO)
Rasio BOPO merupakan perbandingan
antara beban operasional dengan pendapatan operasional perusahaan. Dari hasil
analisis yang diperoleh dari menujukkan bahwa rata-rata rasio BOPO sebelum
akuisisi sebesar 73,1 persen meningkat menjadi 80,0 persen sesudah akuisisi
oleh asing. Peningkatan ra-sio ini mengindikasikan kinerja perusahaan mengalami
penurunan antara sebelum dengan sesudah akuisisi oleh asing. Penurunan rasio
BOPO signifikan secara statistik, ini ditun-jukkan dari Z hitung sebesar -2,197
dengan signifikansi sebesar 0,028 yang lebih kecil dari tingkat signifikansi
0,05. Hal ini menun-jukkan bahwa terjadi perbedaan kinerja pada rasio BOPO
antara sebelum dan sesudah akuisisi bank oleh asing.
6. Rasio Call Money terhadap Aktiva Lan-car (LQ1)
Rasio call money terhadap
aktiva lancar merupakan rasio likuiditas bank. Dari hasil analisis yang
diperoleh dari menujukkan bah-wa rata-rata rasio LQ1 sebelum akuisisi sebe-sar
17,4 persen turun menjadi 17,0 persen sesudah akuisisi oleh asing. Rasio ini
meng-alami peningkatan kinerja, tetapi secara sta-tistik peningkatan tersebut
tidak berbeda sig-nifikan hal ini ditunjukkan dari Z hitung se-besar -0,863
dengan signifikansi sebesar 0,388 yang lebih besar dari tingkat signi-fikansi
0,05. Hal ini menunjukkan bahwa ti-dak terjadi perbedaan kinerja pada rasio LQ1
antara sebelum dan sesudah akuisisi bank oleh asing.
7. Loan to Deposit Ratio (LQ2)
Rasio Loan to Deposit juga
merupakan rasio likuiditas bank dimaksudkan untuk mengukur seberapa besar kemampuan
bank tersebut mampu membayar utang utang-nya dan membayar kembali kepada
deposan-nya serta dapat memenuhi permintaan kredit yang diajukan tanpa terjadi
penangguhan.
Dari hasil analisis yang diperoleh
dari menujukkan bahwa rata-rata rasio LQ2 sebe-lum akuisisi sebesar 42,3 persen
meningkat menjadi 67,8 persen sesudah akuisisi oleh asing. Peningkatan rasio
ini mengindikasikan kinerja perusahaan mengalami penurunan an-tara sebelum
dengan sesudah akuisisi oleh asing. Penurunan rasio LQ2 signifikan secara
statistik, ini ditunjukkan dari Z hitung sebesar -2,824 dengan signifikansi
sebesar 0,005 yang jauh lebih kecil dari tingkat signifikansi 0,05. Hal ini
menunjukkan bahwa terjadi per-bedaan kinerja pada rasio LQ2 antara sebe-lum dan
sesudah akuisisi bank oleh asing.
Dari hasil analisis ketujuh rasio
yang mewakili rasio CAMEL disimpulkan bahwa rata-rata kinerja perusahaan
setelah akuisisi mengalami penurunan kinerja. Hasil peneli-tian ini mendukung
penelitian yang dila-kukan Usadha dan Yasa (2006) dan Andayani dan Salim
(2004), yang memberi bukti em-piris bahwa kinerja keuangan perusahaan ber-beda
sebelum dan sesudah merger dan akui-sisi.
Indikasi Earnings Management
Penelitian ini
membandingkan antara distribusi dari earnings (NPAT) dan cashflow
operation (NCFO) untuk membuktikan apa-kah perusahaan yang diambil alih
oleh asing pada periode 2000-2007 terindikasi melaku-kan earnings management
pada periode se-belum dan sesudah akuisisi. Sejalan dengan Irawan
dan Gumanti (2008) yang menyatakan bahwa cashflow from operation (NCFO) ti-dak
dapat dimanipulasi dengan metode akuntansi apapun, tetapi earnings (NPAT) dapat
diatur dengan menggunakan metode akuntansi tertentu, indikasi earnings
mana-gement pada penelitian ini dapat dideteksi dengan membandingkan
distribusi nilai ear-nings dan cashflow pada periode sebelum dan
sesudah akuisisi oleh asing.
Pengujian
hipotesis yang dilakukan untuk masing-masing periode, yaitu periode sebelum
akuisisi dan periode sesudah akui-sisi secara ringkas dinyatakan sebagai
beri-kut:
1. Pada periode sebelum akuisisi pengu-jian terhadap ada
tidaknya earnings management dilakukan dengan uji Wil-coxon terhadap
earnings periode t (rasio NPATt) dengan earnings periode
peristi-wa (rasio NPATt0) pada 6 perusahaan per-bankan yang diteliti. Dari
hasil pengujian diketahui bahwa terjadi kenaikan ear-nings (rasio NPAT)
dari periode t-2 ke periode t0 dan kenaikan tersebut
signi-fikan secara statistik dengan Z hitung sebesar 2,201 dan -1,992. Disisi
lain, perubahan pada earnings diikuti deng-an perubahan pada cash
flow (rasio NCFO) yang mengalami kenaikan dengan Z hi-tung
berturut-turut sebesar -,997 dan -1,987 yang berarti perubahan tersebut juga
signifikan secara statistik. Hasil pe-ngujian ini. Dengan demikian, indikasi earnings
management terbukti pada pe-riode sebelum akuisisi dengan cara me-naikkan
laba tanpa diikuti oleh kenaik-an pada arus kas dari aktivitas operasi.
2. Pengujian hipotesis kedua pada periode setelah akuisisi
juga dilakukan dengan menggunakan uji Wilcoxon. Hasil uji tersebut
menunjukkan bahwa penurunan earnings (rasio NPAT) yang terjadi
dari saat akuisisi (rasio NPAT t0) hingga pe-riode dua tahun setelah
akuisisi (rasio NPAT t+2) dengan Z hitung berturut-turut sebesar -1,160
dan -0,271 tidak signifikan secara statistik. Penurunan tersebut di-ikuti oleh
perubahan cashflow (Rasio NCFO) yang mengalami penurunan se-besar
4,1% dari rasio NCFOt0 ke rasio NCFOt+1 dan sebesar 5,0% dari rasio NCFOt0 ke
rasio NCFOt+2 dengan Z hitung berturut-turut -0,734 dan -0,105 adalah tidak
signifikan secara statistik. Hasil pengujian ini dapat dilihat pada tabel 7.
Dengan demikian, indikasi earnings management tidak terbukti pada
periode setelah akuisisi.
BAB
III
PENUTUP
A.Kesimpulan
Dari perhitungan
rasio CAMEL yang terdiri dari Rasio CAR, RORA, NPM, ROA, BOPO, LQ1 dan LQ2
secara rata-rata menun-jukkan adanya penurunan kinerja dan secara statistik
terdapat perbedaan yang signifikan pada tingkat kinerja antara sebelum dan
sesu-dah akuisisi perusahaan perbankan oleh asing. Rasio ROA terjadi
peningkatan antara sebelum dan sesudah, dan peningkatan terse-but secara
statistik berbeda yang signifikan. Rasio LQ1 mengalami peningkatan antara
sebelum dan sesudah akuisisi, tetapi secara statistik peningkatan tersebut
tidak berbeda secara signifikan.
Pengujian
terhadap adanya indikasi earnings management pada penelitian ini
di-lakukan dengan dengan menguji perilaku net profit after tax (NPAT) yang
telah distandari-sasi dengan total asset (TA) tahun sebelumnya (Rasio NPAT)
dan net cashflow from opera-tion activities (NCFO) yang juga telah
distan-darisasi dengan total asset (TA) tahun sebe-lumnya (Rasio NCFO).
Pengujian dilaku-kan pada periode sebelum dan sesudah akuisisi pada 6
perusahaan perbankan yang diakuisisi oleh asing periode tahun 2000-2007.
Hasilnya adalah perusa-haan terbukti melakukan tindakan earnings management
akuisisi dengan cara income increa-sing, sedangkan untuk periode sesudah
akui-sisi indikasi earnings management tidak da-pat dibuktikan. Penjelasan
logis atas kondisi tersebut mengacu pada iron law (hukum besi), yaitu
manajemen sesudah akuisisi tidak dapat melakukan earnings management lagi
dikarenakan manajemen sebelum akuisisi te-lah melakukan earnings management secara
maksimal.
B.Saran
Penelitian ini
menggunakan pendekat-an yang konsisten dengan Holland dan Ramsay (2003), serta
Irawan dan Gumanti (2008) yang tergolong pendekatan sederha-na dalam mendeteksi
earnings manage-ment. Penggunaan pendekatan yang lebih kompleks seperti Jones
dan Modified Jones dimungkinkan akan memperoleh hasil yang berbeda
tentang keberadaan earnings mana-gement. Untuk para peneliti yang
berminat mengkaji lebih lanjut pada bidang yang sama disarankan dapat
memperpanjang periode pe-ngamatan dan menambah sampel penelitian jenis industri
lain sehingga dapat digunakan untuk menyempurnakan penelitian.
BAB 1V
DAFTAR PUSTAKA
Amin, A., 2007. Earnings Management,
Underpricing dan Pengukuran Kinerja Perusahaan yang Melakukan Kebijak-an
Initial Public Offering di Indonesia. Simposium Nasional Akuntansi X. Ma-kassar.
Anggraini, Vita, Lely, 2001. Analisis Ke-uangan
Perusahaan Sebelum dan Sesu-dah Melakukan Akuisisi, Tesis, Univer-sitas
Diponegoro, Semarang.
Gumanti, Tatang
Ary, 2000. Earning Mana-gement: Suatu Telaah Pustaka, Jurnal
Akuntansi dan Keuangan, Vol.2. No-vember. Universitas Kristen Petra.
-------, 2001. Earnings Management pada Pe-nawaran Pasar
Perdana di Bursa Efek Jakarta, Jurnal Riset Akuntansi Indo-nesia. Volume
4, Nomor 2. 165-183.
-------, 2003. An Investigation of Earnings Management in
Indonesian Manufac-turing Initial Public Offerings, Gadjah Mada
International Journal of Bu-siness. Volume 5, Nomor 3. 345-362.
-------, 2006. Manajemen Laba: Apa dan Me-ngapa,
Kajian Akuntansi.Volume 1. Juni. 1-13.
Holland, D. dan Ramsay, D., 2003. Do Aus-tralian
Companies Manage Earnings to Meet Simple Earnings Benchmarks, Accounting and
Finance. Volu-me 43. 41-62.
Ikatan Akuntan Indonesia, 2007. Standar Akuntansi
Keuangan. Salemba Empat, Jakarta.
Indriantoro, Nur. dan Supomo, Bambang, 2002. Metode
Penelitian Bisnis: untuk Akuntansi dan Manajemen, Edisi Per-tama, Cetakan
Kedua, BPFE, Yogya-karta.
Irawan, Adi dan Gumanti, Tatang Ary, 2008. Indikasi
Earnings Management pada Initial public Offering. Simposium Na-sional
Akuntansi XII, Palembang.
Kusuma, Hadri dan Wigina Ayu Udiana Sari, 2003. Manajemen
Laba oleh Perusa-haan Pengakuisisi Sebelum dan Sesu-dah Merger dan Akuisisi di
Indonesia, Jurnal Akuntansi dan Auditing Indone-sia. Vol. 7. No. 1.
Juni. p. 21-36.
Schipper, Katherine, 1989. Commentary on Earnings
Management. Journal Ac-counting Horizon. Vol 3. No 4. hal. 91-102.
Scott, W.R., 2000. Financial Accounting Theory. Second
Edition. New Jersey: Prentice Hall.
Setiawati, Lilis, 2002. Manajemen Laba dan IPO di Bursa
Efek Jakarta. Simpo ANALISIS KINERJA KEUANGAN DAN INDIKASI EARNINGS
MANAGEMENT SEBELUM DAN SESUDAH AKUISISI PERBANKAN OLEH INVESTOR ASING Kusuma
Indawati Halim 70 sium Nasional Akuntansi V. hal.112-115.
Sugiyono, 2006. Metode Penelitian Bisnis, Cetakan
ke-9, Alfabeta, Bandung.
Sukartha, I Made, 2008. Pengaruh Manaje-men Laba,
Kepemilikan Manajerial dan Ukuran Perusahaan pada Kese-jahteraan Pemegang Saham
Perusa-haan Target Akuisisi, Disertasi. Uni-versitas Gajah Mada,
Yogyakarta.
Sutanto, Imam, 2000. Indikasi Manajemen Laba Menjelang
IPO oleh Perusaha-an-perusahaan yang Terdaftar di Bursa Efek Jakarta,
Tesis, Universitas Gajah Mada, Yogyakarta.
Sutrisno, 2002. Studi Manajemen Laba (Ear-nings
Management): Evaluasi Pan-dangan Profesi Akuntansi, Pemben tukan dan
Motivasinya. Kompak. p.158-179.
Suwardi, 2008. Analisis Kinerja Keuangan Sebelum dan
Sesudah Merger pada PD BPR BKK Purwodadi, Tesis, Uni-versitas Diponegoro,
Semarang.
Titik Haryati dan Hekinus Manao, 2005. Rasio Keuangan
sebagai Prediktor Bank Bermasalah di Indonesia, Jur-nal Riset Akuntansi
Indonesia, Vol.5. No. 2. Mei.
Van Horne, James C., 2005. Financial Mana-gement and
Policy, Twelfth Edition, Prentice Hall, London.
Wild.J.J., K.R.Subramanyam dan R.F. Halsey, 2003. Financial
Statement Analysis, Eight Edition, McGraw-Hill, Singapore.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar